Pacaran, Sebuah konteks yang kebablasan.

Pacaran ?
Apa makna sebenarnya dari sebuah konteks yang di sebut sebagai berpacaran ?
Dan apa sebenarnya keuntungan yang di peroleh saat kita berpacaran ?

Mungkin di kalangan masyarakat indonesia yang modern seperti saat ini, suatu prinsip yang di sebut dengan pacaran merupakan sesuatu yang terbilang umum dan wajar. Bahkan norma-norma yang ada pun seperti tidak menentang terhadap prinsip pacaran seperti ini.



Apa mungkin karena di kalangan remaja bahkan orang dewasa sekalipun banyak yang beranggapan bahwa pacaran merupakan satu-satunya bentuk pengenalan diri dari seorang pribadi terhadap pribadi lain. Seperti terkesan suatu hal yang umum dilakukan, masyarakat sekitarpun cenderung menutup mata dan telinga mereka bahkan menganggap hal ini sebagai hal yang sangat wajar untuk dilakukan oleh kalangan remaja saat ini.

Apa banyak yang tidak berfikir bahwa konteks pacaran saat ini sudah jauh menyimpang dari tujuan dan pengertiaan asalnya. Bahkan banyak kejadian-kejadian negatif yang baru-baru ini timbul dari prinsip pacaran yang bebas serta jauh dari nilai norma-norma yang ada di masyarakat, Perilaku itu cenderung kebablasan dan kelewat batas. Bahkan terkadang sampai membuat malu pribadi tersebut, keluarga, serta lingkungan sekitar mereka tinggalpun ikut merasakan dampak negatif akibat ulah mereka tersebut.

Contohnya saja akhir-akhir ini marak berita-berita yang menampilkan konten negatif dari pacaran, seperti halnya saja kasus seorang remaja yang nekat mengakhiri hidupnya karena di tinggal pergi oleh pacaranya, bahkan banyak berita yang mengabarkan banyak remaja yang sampai hamil di luar nikah. Yah mungkin karena gaya berpacaran mereka yang tak sepantasnya dan bahkan sudah terlampau batas.

Mungkin rasa sayang mereka terhadap lawan jenis yang memaksa mereka untuk berbuat hal-hal yang diluar batas kewajaran, sampai-sampai mereka rela berbuat apa saja hanya demi mendapat sebuah gelar "KOSONG' yang disebut sebagai seorang "PACAR". Tapi apakah ini semua merupakan salah mereka seutuhnya ?

(TIDAK) bahkan orang tua sekalipun harus mempunyai andil dalam hal semacam ini. Karena, para remaja perlu di bimbing dan di arahkan untuk mencurahkan perasaannya kepada hal-hal yang bersifat positif. Dengan menjadikan rasa sayang itu sebagai sebuah motivasi untuk jadi pribadi yang lebih baik dan lebih baik lagi.

Maka sudah sepantasnya bahwa sebagai seorang remaja yang masih mengemban tugas sebagai seorang pelajar, tugas utama mereka adalah belajar. Saya juga tidak bisa menyalahkan perasaan pribadi setiap insan, karena itu merupakan suatu anugrah dari Tuhan yang sangat besar manfaatnya. Tapi tinggal bagaimana peranan kita untuk menjadikan sebuah anugrah itu agar tetap indah dan dapat memberi keindahan untuk diri sendiri dan juga terhadap lingkungan sekitar.

Karena rasa itu sudah sepantasnya ada, bahkan akan terasa berkesan bila hal-hal yang terlibat di dalamnya bersifat positif. Konteks pacaran memang sewajarnya ada, tapi asalkan tahu batas dan selektif dalam perjalanannya. Jangan sampai salah langkah dan di buatnya menyesal di kemudian hari, dan alangkah baiknya bahwa perasaan terhadap lawan jenis menjadi sebuah motivasi untuk maju, untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi agar tak hanya di kagumi oleh keluarga, masyarakat sekitar, bahkan oleh orang-orang yang kita kagumi sebelumnya.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Pacaran, Sebuah konteks yang kebablasan."

Post a Comment